Beranda

TAHAP-TAHAP BELAJAR FIQIH

Tinggalkan komentar

Belajar ilmu agama itu ada tahap-tahapnya. Khuthwah Kuthwah (خطوة خطوة). Step by step.

 

Jika dia memulai dengan tahap paling bawah lalu naik sesuai tahap, maka dia akan menjadi orang ‘Alim. Namun jika dia langsung meloncat ke tahap-tahap atas, maka dia akan jatuh dan proses pencarian ilmunya akan gagal.

 

Sebagaimana orang mau naik ke atas menara Adzan, dia harus melalui tahap-tahap anak tangga. Jika dia naik dari tahap anak tangga pertama, lalu naik sesuai tahapan anak tangganya, maka dia akan sampai ke atas. Namun, jika dia langsung loncat ke anak tangga yang atas, maka dia akan jatuh, dan proses naiknya ke menara akan gagal.

************************************************

 

Contoh : Belajar Fiqih = Hukum Islam Langkah-langkahnya :

1) Belajar seluruh bab dalam Fiqih dengan cara belajar sebuah kitab ringkas dalam salah satu Madzhab Empat, di tangan seorang yang ‘Alim Fiqih (: bukan baca kitab sendiri). DENGAN TUJUAN : tahu semua hukum Islam. Tanpa sibuk mencari dalil-dalilnya, juga tanpa sibuk dengan perbedaan pendapat para Ulama.

2) Belajar kitab-kitab Fiqih yang berisi perbedaan pendapat para Ulama dalam sebuah Madzhab tertentu, di tangan seorang ‘Alim Fiqih. DENGAN TUJUAN : Memperluas pengetahuan tentang Fiqih, sehingga tidak fanatik dengan sebuah pendapat dan tidak menyalah-nyalahkan orang lain.

3) Belajar kitab-kitab Fiqih yang tidak hanya berisi perbedaan pendapat dalam satu Madzhab, namun juga berisi dalil-dalilnya beserta pendapat yang paling unggul disertai dalil keunggulannya. Diimbangi dengan belajar Qowa’id Fiqhiyyah dan Ushul Fiqih. DENGAN TUJUAN : mengetahui bagaimana cara penarikan dalil dari referensi-referensi Islam, dan mengetahui bagaimana caranya memilih pendapat yang paling unggul.

4) Belajar kitab-kitab Fiqih yang berisi Fiqih perbandingan antar Madzhab, baik yang disertai pendapat yang paling unggul ataupun tidak. DENGAN TUJUAN : memperkaya diri dengan pengetahuan luas tentang madzhab lain dan dalilnya, agar tidak fanatik dengan sebuah madzhab dan agar berani memilih pendapat madzhab lain jika memang terbukti itu pendapat yang unggul

5) Belajar kitab-kitab Fiqih yang berisi permasalahan-permasalahan kontemporer. DENGAN TUJUAN : mengembangkan ilmu Fiqih sehingga tidak hanya terpaku kepada masalah-masalah klasik, tetapi juga merambah ke masalah-masalah kontemporer.

**************************************************

 

Sayangnya, di zaman sekarang, banyak orang belajar Fiqih tidak sesuai tahapannya. Dia sebenarnya masih NOL dalam masalah Fiqih, tapi langsung belajar FIQIH Perbandingan dengan puluhan dalil dan kaedah Ushul Fiqihnya. Akhirnya, dia gagal ! Tidak sukses menjadi orang ‘Alim Fiqih.

 

Ketika ditanya tentang hukum Bersentuhan Laki Perempuan membatalkan wudhu atau tidak, dia -Ma sya Allah- mampu menjawab secara detail. Menghadirkan pendapat seluruh madzhab, dengan seluruh dalilnya. Namun, ketika ditanya apa definisi RIBA ??? Dia tidak tahu sama sekali. Orang yang pengetahuannya seperti ini tentu bukanlah orang ‘Alim.

***********************************************

 

Jadi, belajarlah ilmu agama secara bertahap. Jangan meloncat-loncat. Sabar sedikit. Insya Allah, Anda akan menjadi Ulama, jika Anda belajar sesuai tahapannya.

 

Semoga Allah memberi kita semangat untuk belajar sesuai tahapannya, sehingga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang ‘Alim, atau paling tidak menjadi golongan orang Muta’allim (pelajar).

 

Amin Amin Amin

MAKNA MUHAMMADUN RASULULLAH

Tinggalkan komentar

Makna “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah” adalah “Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Gambar

 

Pengakuan ini mempunyai empat buah konsekuensi yang harus dijalankan oleh orang yang mengucapkannya, sbb :

 

1) Mempercayai semua yang beliau beritakan

Ketika kita mengakui beliau sebagai Utusan Allah, maka kita harus percaya dengan semua berita yang beliau sampaikan, seperti : berita tentang Surga, Neraka, Hari Kiamat, Isra dan Mi’raj, dsb dsb dsb.

Kalau ada orang yang ragu terhadap beberapa berita yang beliau sampaikan, berarti dia kurang konsisten dengan Syahadat atau Pengakuannya.

 

2) Taat kepada setiap perintah beliau

Ketika kita mengakui beliau sebagai seseorang yang diutus Allah untuk membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya, maka kita harus taat terhadap setiap perintah beliau.

Kalau ada orang yang enggan menaati beberapa perintah beliau, berarti dia kurang konsisten dengan Syahadat atau Pengakuannya.

 

3) Meninggalkan semua larang beliau

Ketika kita mengakui beliau sebagai seseorang yang diutus oleh Allah untuk membimbing kita menuju Surga-Nya dan menjauh dari neraka-Nya, maka kita harus menjauhi segala sesuatu yang beliau larang.

Kalau ada orang yang enggan meninggalkan beberapa larangan beliau, berarti dia kurang konsisten dengan Syahadat atau Pengakuannya.

 

4) Tidak mau menyembah Allah kecuali dengan menggunakan ajaran beliau

Ketika kita mengakui beliau sebagai seseorang yang diutus oleh Allah kepada kita, maka kita harus menyembah Allah sesuai dengan ajaran beliau. Ajaran beliau ini di dalam Ilmu Akidah disebut “Sunnah”.

Kita tidak boleh membuat-buat cara-cara ibadah baru yang beliau sama sekali tidak mengajarkannya. Cara-cara baru seperti ini bukanlah ajaran beliau, melainkan ajaran palsu. Ajaran palsu di dalam Ilmu Akidah disebut “Bid’ah”.

Kalau ada orang yang enggan menjalankan ajaran asli beliau atau “Sunnah” tapi malah giat menjalankan ajara palsu atau “Bid’ah”, berarti dia kurang konsisten dengan Syahadat atau Pengakuannya.

Wallahu a’lam ^__^

 

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang konsisten terhadap Pengakuan kita, terhadap Syahadat kita bahwa Muhammad adalah Utusan Allah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-, sehingga nanti kita di akhirat tetap diakui sebagai umat beliau.

Amin Amin Amin Ya Robbal ‘Alamin

 

SETELAH LIMA TAHUN

Tinggalkan komentar

Lima tahun lalu, ketika pertama kali hendak pergi belajar ke Makkah, ku katakan kepada diriku, “Aku akan kejar semua impianku sampai ke ujung Dunia !!!”

 

Gambar

 

Dulu, aku mempunyai impian:
1) Bisa belajar di Fakultas Dakwah Wa Ushuluddin, di Ummul Qura Univercity, Makkah
2) Bisa menjadi mahasiswa paling berprestasi di Makkah

 

Kini, berkat kasih sayang Allah yang tak terkira banyaknya kepadaku, aku telah berhasil menggapai dua impian ini. Aku sudah dua tahun mendapat penghargaan dari Universitas.

 

Gambar

 

NAMUN … Aku serasa berdiri di depan Lautan Ilmu yang luas dan tak bertepi. Aku merasa aku masih saja bediri di tepi Laut itu,sedangkan ribuan Ulama telah menyelam ke dalamnya dan mengambil banyak mutiaranya …

 

Gambar

 

Aku merasa sangat lemah, sangat bodoh, sangat kecil, sangat kerdil, dan sangat tak berarti dibandingkan mereka …

************************

 

Ya Allah …

Siapalah aku ini selain debu kotor yang berterbangan di dunia ilmu yang sangat luas ..
Setelah perjalanan panjang dan bertahun-tahun ini , aku menjadi tahu bahwa aku ini bukanlah siapa-siapa … Bahwa aku ini sebenarnya tidak tahu apa-apa …

 

Gambar

 

Aku ingin ikut berjalan bersama rombongan mereka, ya Rabb …
Aku ingin menyusul Kafilah Para Ulama …

 

Gambar

 

Ah, perjalanan masih sangat panjang dan jauh …
Namun, godaan begitu banyak …

 

Aku tak bisa mengandalkan diriku sendiri dalam perjalanan ini …
Diriku sangatlah lemah dan tak berdaya, tergoda ini dan itu ..

 

Aku hanya mengandalkan-Mu ya Rabb untuk memberiku tuntunan dan bimbingan dalam menempuh perjalanan ini …

 

Itu karena aku ini sangat lemah, sedangkan Engkau Maha Kuasa Berbuat Apa Saja …
itu karena aku ini buta da bodoh, sedangkan Engkau Maha Melihat dan Maha Mengetahui …
Itu karena aku ini sangat berharap ampunan dan rahmat-Mu,
Sedangkan Engkau adalah Sang Raja Diraja Yang Maha Pengasih, Maha Pengampun, dan Maha Dermawan

 

Gambar

 

Robbi, A’inni wa waffiqni … Ya Mujibad Du’a …

Ya Allah, tolonglah aku dan bimbinglah aku …
Wahai Tuhan Yang Maha Mengabulkan Seluruh Do’a

Amin … *___*

MAKNA LA ILAHA ILLALLAH

Tinggalkan komentar

Semboyan agama Islam adalah لا إله إلا الله (La ilaha illallah);
Yang berarti : Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

 

 

Semboyan ini mengandung dua makna, yaitu :

 

1) Menyatakan bahwa semua yang selain Allah tidak layak dan tidak berhak disembah. Dengan kata lain, penyembahan kepada siapa saja selain Allah adalah tidak benar dan sesat.

 

2) Menyatakan bahwa hanya Allah saja yang layak dan berhak disembah. Dengan kata lain, penyembahan kepada Allah saja yang merupakan kebenaran.

 

Gambar

 

Semoga Allah menguatkan kita untuk terus berpegang teguh di atas Syahadat “La ilaha illallah” sampai kita mati nanti …

Amin .. Amin .. Amin ….

RENUNGAN TENTANG HIDUP

Tinggalkan komentar

Wahai Anak Adam …

 

Ketika kamu lahir, dikumandangkan adzan di telingamu tanpa adanya sholat


Dan ketika kamu mati, dilaksanakan sholat atasmu tanpa adanya adzan

 

Ohhh, seakan-akan waktu hidupmu di dunia adalah sangat sebentar seperti sebentarnya waktu jarak antara adzan dengan sholat

 

Maka, janganlah kau habiskan waktu sebentar  ini dengan hal tak bermanfaat

 

Dan ketika kamu ingin membuat Allah murka, maka berbuatlah maksiyat di sebuah tempat yang tidak terlihat oleh Allah

 

Jangan lihat kecilnya sebuah maksiyat
Namun, lihatlah Betapa Agungnya Tuhan yang kamu maksiyati

INTI AJARAN ISLAM

Tinggalkan komentar

Inti ajaran Islam adalah Tauhid, yaitu mengesakan Allah.

 

Mengesakan Allah akan terjadi dalam diri manusia apabila dia melakukan dua pengesaan dari dua segi berikut :

 

1) Segi Keyakinan; yaitu meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan Semesta Alam, hanya Allah yang berhak disembah, dan hanya Allah Yang Maha Sempurna.

Dalam lingkup ilmu Akidah, Pengesaan dari segi keyakinan ini disebut “Tauhidul Makrifat Wal Itsbat.”

 

2) Segi Perbuatan; yaitu seseorang mempersembahkan semua jenis ibadah hanya untuk Allah. Dia tidak mempersembahkan ibadahnya kepada selain Allah.

Dalam lingkup ilmu Akidah, Pengesaan Allah dari segi perbuatan ini disebut “Tauhidul Qoshdi Wath Tholab.”

*******************************************

 

Kedua segi Pengesaan ini harus dilakukan secara bersamaan oleh seorang manusia agar dia bisa dikatakan telah mengikuti ajaran Tauhid yang dibawa oleh Islam.

 

Contoh : Seseorang meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah, kemudian dia membuktikan keyakinannya itu dengan perbuatan, misalnya : dia sholat hanya untuk Allah, dia bersujud hanya untuk Allah, dia tawakkal hanya kepada Allah, dia berdoa meminta hanya kepada Allah. dsb.

 

Nah, orang seperti ini telah melakukan dua segi Pengesaan. Dan dengan ini, dia telah benar-benar mengikuti ajaran Tauhid yang dibawa oleh Islam.

*******************************************

 

Jika ada orang yang bersujud hanya kepada Allah, sholat hanya kepada Allah, tawakkal hanya kepada Allah, dan berdoa meminta hanya kepada Allah, namun di dalam hati dia berkeyakinan bahwa :

 

1) Ada seseorang selain Allah yang ikut mencipta, memiliki dan mengatur alam semesta
2) Atau berkeyakinan bahwa ada seseorang yang berhak disembah selain Allah
3) Atau berkeyakinan bahwa ada seseorang yang sempurna sebagaimana Allah Yang Maha Sempurna,

 

Maka, orang tersebut hanya melakukan segi Pengesaan yang kedua dan melalaikan segi Pengesaan yang pertama. Orang seperti ini belum bisa dikatakan “mengikuti ajaran Tauhid yang dibawa oleh Islam.”

******************************************

Jika ada orang yang berkeyakinan bahwa Hanya Allah Tuhan Semesta Alam, Hanya Allah yang berhak disembah, dan Hanya Allah Yang Maha Sempurna, namun dia mempersembahkan ibadahnya untuk selain Allah, misalnya :

 

1) Dia mempersembahkan doa kepada selain Allah, dengan cara berdoa meminta memohon-mohon kepada selain Allah
2) Dia mempersembahkan tawakkal kepada selain Allah, dengan cara menggantungkan harapan sepenuhnya kepada selain Allah
3) Dia mempersembahkan shodaqoh kepada selain Allah, dengan cara memberi shodaqoh dengan mengharap imbalan dan pujian

 

Maka, orang tersebut hanya melakukan segi Pengesaan yang pertama dan melalaikan segi Pengesaan yang kedua. Orang seperti ini belum bisa dikatakan “mengikuti ajaran Tauhid yang dibawa oleh Islam.”

 

Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah agar selalu teguh dalam ajaran Tauhid. Amin Ya Rabbal Alamin.

Wallahu ‘alam … ^__^

MAKNA KATA “SUNNAH”

Tinggalkan komentar

Kata “Sunnah” dalam lingkup ilmu-ilmu agama Islam mengandung empat makna :

 

1) “Sunnah” dalam lingkup ilmu Fiqih, adalah perkara yang seorang muslim akan mendapat pahala jika melakukannya, dan tidak mendapat dosa jika meninggalkannya.

 

2) “Sunnah” dalam lingkup ilmu Ushul Fiqih, adalah sisi kehidupan Nabi Muhammad yang bisa dijadikan dalil hukum Islam, yaitu setiap perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad setelah beliau menjadi Nabi.

Adapun sisi kehidupan beliau sebelum menjadi Nabi, maka tidak bisa dijadikan dalil, karena saat itu beliau masih manusia biasa, belum mendapat wahyu. Dan karena tidak bisa dijadikan dalil, maka sisi kehidupan sebelum menjadi Nabi tidak termasuk “Sunnah” di dalam lingkup ilmu Ushul Fiqih.

 

3) “Sunnah” dalam lingkup ilmu Hadits, yaitu semua segi kehidupan Nabi Muhammad, baik sebelum menjadi Nabi ataupun sesudahnya, yaitu setiap perkataan, perbuatan, ketetapan, bentuk fisik dan akhlak beliau.

 

4) “Sunnah” dalam lingkup ilmu Akidah, adalah ajaran asli, ajaran yang memang benar-benar telah diajarkan Rasulullah kepada para sahabat. Kebalikannya adalah ajaran palsu, ajaran yang sama sekali tidak diajarkan Nabi Muhammad, tetapi oleh beberapa aliran diaku-aku sebagai ajaran Islam. Dalam lingkup ilmu Akidah, ajaran palsu ini disebut “Bid’ah.”

 

Jadi, jangan sampai Anda salah dalam memahami makna kata “Sunnah.”

Wallahu a’lam ^__^

Older Entries