Referensi ajaran Islam ada tiga : Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’.

 

Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad -shollallahu ‘alaihi wa sallam- setelah beliau mengemban tugas sebagai Nabi.

 

Kenapa kita menjadikan Sunnah Nabi sebagai salah satu referensi agama kita setelah Al-Qur’an ???

 

Jawabnya :

 

1) KONSEKUENSI DUA KALIMAT SYAHADAT
Ketika seseorang berkeyakinan bahwa La ilaha illallah, maka konsekuensinya adalah dia mempercayai dan mengamalkan setiap Firman Allah. Begitu juga, ketika dia berkeyakinan Muhammadun Rasulullah, maka konsekuensinya dia mempercayai dan mengamalkan setiap Sabda Rasulullah.

 

Kalau sampai ada orang yang enggan mengamalkan Al-Qur’an, maka berarti dia tidak konsisten dengan La ilaha illallah. Begitu juga, kalau sampai ada orang yang enggan mengamalkan Sunnah, maka berarti dia tidak konsisten dengan Muhammad Rasulullah. Dan dengan bahasa yang lebih transparan : “Iman orang seperti itu perlu dipertanyakan.”

 

2) MENGAMALKAN AYAT AL-QUR’AN
Ada banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk mengamalkan Sabda Nabi. Maka, barang siapa tidak mau mengamalkan Sabda Nabi, maka dia telah menolak mentah-mentah perintah Allah dan telah mengingkari ayat Al-Qur’an. Apakah orang seperti ini masih punya iman ???

 

Di antara ayat-ayat tersebut :

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

“Dan apa saja yang diberikan oleh Rasul kepada kalian, maka terimalah. Dan apa saja yang dilarang oleh dia, maka jauhilah.” QS. Al-Hasyr : 7

 

Maksud ayat ini adalah kita diperintahkan untuk taat penuh kepada Rasul, karena taat kepada beliau sama saja taat kepada Allah, sebagaimana dalam ayat 80 Surat An-Nisa :

من يطع الرسول فقد أطاع الله

“Barang siapa taat kepada Rasul, maka dia telah benar-benar taat kepada Allah.”

 

Bagaimana caranya kita taat kepada Rasul ?
* Dengan melakukan setiap perintah beliau dan menjauhi setiap larangan beliau ketika beliau masih hidup.
* Dengan melakukan setiap isi Sunnah beliau ketika beliau sudah wafat

 

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر

“Lalu, jika kalian berselisih dalam sesuatu, maka kembalikan hal itu kepada Allah dan Rasul, jika kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir.”QS. An-Nisa : 59

 

Maksud ayat ini adalah kita wajib mengembalikan hukum masalah yang diperselisihkan itu kepada Allah dan Rasul. Bagaimana caranya ?
* Kepada Allah artinya kembali kepada Al-Qur’an
* Kepada Rasul artinya bertanya kepada beliau ketika beliau masih hidup, dan mencari jawaban dalam Sunnah beliau ketika beliau sudah wafat.

 

3) MENGAMALKAN HADITS BELIAU
Banyak sekali hadits yang memerintahkan kita untuk tidak hanya menjadikan Al-Qur’an saja sebagai referensi agama, tetapi juga menjadikan Sunnah beliau sebagai referensi. Bahkan ada hadits yang secara tegas, jelas dan gamblang mencela para pengingkar Sunnah, sbb :

يُوشك أَن يقْعد الرجل على أريكته ، يحدث بحديث من حديثي ، فيقول : بيننا وبينكم كتاب الله عز وجل ، فما وجدنا فيه من حلال استحللناه ، وما وجدنا فيه من حرام حرمناه ، ألا وإن ما حرم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – مثل ما حرم الله

“Hampir datang masanya, seorang lelaki duduk di tempat duduknya, dia dikabari sebuah hadits dari haditsku, lalu dia berkata : ‘Di antara kami dan kalian adalah Kitabullah. Apa saja yang kami jumpai di dalamnya halal, maka kami halalkan. Dan apa saja yang jumpai di dalamnya haram, kami haramkan.’
(Lalu Rasul memperingatkan) Ingat ! Sesungguhnya perkara yang diharamkan oleh Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam- adalah seperti apa yang diharamkan oleh Allah !!!” HR. Baihaqi. Hakim dan Ibnu Majah.

 

Ya, keduanya sama-sama harus dipatuhi. Dan apa yang diharamkan Rasulullah harus dijauhi seperti apa yang diharamkan Allah. Artinya : Sabda Nabi harus dipatuhi sebagaimana dipatuhinya Firman Allah. Sunnah juga harus dipatuhi sebagaimana dipatuhinya Firman Allah.

 

Maka, barang siapa yang mengingkari Sunnah, maka dia telah membangkang perintah Nabi dan tidak mau taat kepada beliau. Apakah orang seperti ini masih punya iman ???

 

4) AKAL
Secara akal, kita tidak mungkin bisa menjalankan isi Al-Qur’an kecuali dengan Sunnah Nabi.
Contoh :
*Allah memerintahkan kita untuk sholat, sedangkan di dalam Al-Qur’an, Allah tidak menjelaskan tata cara, syarat, dan rukunnya. Kalau bukan dengan Sunnah Nabi, bagaimana mungkin kita bisa melaksanakan perintah untuk sholat ini ???
*Allah mewajibkan kita untuk Haji di dalam Al-Qur’an, sedangkan Allah tidak menjelaskan tata cara, syarat, dan rukun Haji di dalam Al-Qur’an. Kalau bukan dengan Sunnah Nabi, bagaimana mungkin kita bisa melaksanakan perintah wajib Haji ?

 

Kalau bukan dengan Sunnah Nabi, bagaimana mungkin kita bisa mempraktekkan Al-Qur’an ???
Maha Benar Allah ketika menjelaskan kepada kita bahwa fungsi Sunnah Nabi adalah sebagai penjelas Al-Qur’an dan bahwa orang yang mengikuti Sunnah adalah orang yang berpikir, sebagaimana dalam ayat berikut :

وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون

“Dan Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) Adz-Dzikr (: nama lain dari Al-Qur’an), agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir.”ٍَAn-Nahl : 44

 

Mengamalkan Sunnah Nabi adalah konsekuensi dari akal sehat kita. Maka, barang siapa mengingkari Sunnah, maka perlu dipertanyakan kesehatan akalnya. Dan kalau perlu, kita rawat dia di Rumah Sakit Jiwa terdekat.

 

5) Ijma’ Para Ulama Islam dari abad ke abad bahwa Sunnah adalah referensi ajaran agama Islam.